Kasih Persaudaraan (bahan khotbah)

Kasih Persaudaraan yang Merangkul dan Memulihkan

Bacaan I – I Korintus 8 : 1-13

Bacaan Injil – Markus 1 : 21-28

Saya punya sahabat di Klaten. Kami bertemu saat di bangu SMP. Terus terang saya sangat terharu, dalam kondisi mereka yang serba serba terbatas dalam ekonomi, mereka tidak patah semangat. Ayahnya bekerja di sawah dari pagi hingga subuh. Ibunya jualan apa saja di pasar. Anak-anaknya dididik dengan kemerdekaan penuh, tidak banyak bicara, namun turut serta bekerja seolah sadar betul bahwa orangtua mereka membutuhkan keluarga mereka. Sebelumnya mereka penganut Hindu. Setelah perjuangan anak mereka yang pertama, Slamet Widodo, keluarga itu mengikut Kristus. Bukan perjuangan biasa, sebab Slamet Widodo, anak sulung itu berpesan kepada orang tua mereka untuk mengikut Tuhan Yesus di saat ajal menjemput. Peristiwa yang memedihkan.

Akhirnya keluarga itu seolah mendapatkan jawaban atas kematian anak sulung mereka, bahwa mereka memang dipanggil untuk menjadi murid Tuhan Yesus. Namun, apakah nasib mereka kemudian berubah? Tidak banyak! Mereka semakin sabar. Dari lima anaknya, adalah yang terakhir bernama Sri Rejeki. Gadis pintar luar biasa, meraih juara 1 di SMP 4 Klaten walau tanpa fasilitas yang cukup. Bersepeda menempuh jarak lebih 10 km. Gadis itu pun akhirnya meninggal dunia. Keluarga itu mengalami krisis luar biasa. Namun, lagi dan lagi, mereka tabah.

Persoalan tak kunjung reda. Mereka memiliki tanah yang luas di pinggir jalan. Mereka bisa menjualnya sebagian untuk memperbaiki hidup. Namun inilah persoalannya. Adik dari orangtuanya bukan orang yang tahu arti hidup. Ia seorang penjudi, menjual hampir seluruh tanah mereka, kecuali yang ada rumahnya, yang ditinggali keluarga teman saya tersebut. Paman yang jelas bukan hanya merongrong wibawa keluarga, namun juga merugikan masa depan keluarga besar mereka.

Mari kita menuju kisah lain tentang perdebatan memperlakukan daging persembahan kepada berhala. Dalam I Korintus tidak dijelaskan siapa yang menyiapkan daging, siapa yang memakannya, dan siapa berhalanya. Bahkan dituliskan di sana, tidak ada berhala (ay. 4). Juga kita lihat bahwa ini soal pengentahuan dan kasih. Pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting, sedangkan kasih dianggap sebagai daya untuk membangun. Saya teruskan dulu, pada ayat 8, sesungguhnya makan atau tidak daging berhala itu, tidak jadi soal. Kita bayangkan saja itu daging persembahan ya. Dimakan tidak menguntungkan, tidak dimakan juga tidak rugi. Namun dijelaskan lebih lanjut, pada ayat ke 10, “jika ada orang yang melihat engkau memakan daging padahal engkau tahu tidak seharusnya dimakan, maka orang yang lemah nurani, atau yang mudah tergoda akan segera mengikuti tindakan itu.” Mereka akan bilang, “dia yang tahu saja makan daging itu, apalagi saya yang tidak tahu, ya jelas tidak ada larangan untuk tidak memakannya.” Di situlah kesalahan orang-orang yang memiliki pengetahuan namun tidak dapat menjadi teladan untuk tidak melakukan sebuah larangan. Memang tidak dilarang, tetapi jika dilakukan, tetap saja membuat orang berpikir, “tidak ada yang salah dengan itu.”

Apakah hal ini biasa saja? Oh tidak bapak ibu. Ayat selanjutnya menjelaskan, jika kita yang tahu ini, tidak dapat menjadi teladan, maka kita berdosa kepada Kristus. Ini soal sederhana, soal makanan, soal yang sebenarnya tidak dilarang. Namun jika kita lakukan dapat menjadi batu sandungan.

Lalu apa hubungannya dengan kisah di atas? Tentu ada! Jelas ada! Bapak ibu, Sdr/i yang dikasihi Allah, yang dirangkul Allah, dan yang dipulihkan! Kita ini hidup sebagai manusia bebas. Itulah yang dikehendaki Allah. Kita bebas dari apapun. Terutama dari dosa. Kita juga bebas dari penindasan. Oleh karena itu jika ada orang yang hidupnya tertekan, pasti ada yang salah. Karena kita hidup merdeka, maka kita boleh menentukan jalan hidup kita lewat mana. Mau jadi apa. Bekerja keras atau malas-malasan. Menjadi Kristen atau tidak. Namun, ingatlah di balik kebebasan itu ada sebuah konsekuensi.

Dari cerita di atas, orang-orang di sekitar keluarga teman saya itu, ada yang cuek ada yang peduli. Jika ada orang cuek karena dia tidak tahu harus bagaimana, itu wajar. Namun bagi orang-orang yang tahu bahwa mereka harus peduli, tidak wajar jika orang tersebut tidak peduli. Sama halnya dengan apa yang dikatakan dalam I Korintus, “Jika orang berpengetahuan, yang tahu bahwa tidak seharusnya memakan daging itu, tetapi tetap makan, kemudian diikuti oleh orang yang tidak punya pengetahuan, jelas ini sebuah kesalahan besar!” Ini sama halnya dengan orang yang tahu bahwa itu berdosa tetapi tetap dilakukan. Orang Kristen sudah tahu bahwa mereka dipersatukan dalam sebuah keluarga untuk saling merangkul dan memulihkan, jika tidak maka dia tidak wajar. Kita bisa saja bersikap netral, tidak ngapa-ngapain. Tetapi jelas itu pilihan yang tidak dianjurkan, kita tahu itu!

Dari kisah di atas, mari kita soroti bersama, mana yang harusnya lebih peduli terhadap keluarga teman saya? Saudaranya atau orang gereja? Jawabnya jelas, dua-duanya! Mengapa? Yang pertama, saudaranya itu bukan orang lain. Dia harusnya menolong seudaranya, bukan malah menjual banyak tanah untuk kepentingan buruk dirinya sendiri. Kemudian orang gereja juga perlu melakukan kepedulian. Mengapa? Karena orang gereja juga adalah saudaranya. Bahkan kalau dipikir-pikir, kita tidak bisa memilih mau punya saudara kandung seperti apa. Semua sudah terberi dengan karakternya masing-masing. Namun saudara di gereja tentu lain, bisa kita pilih, mau bersaudara atau tidak. Dengan kesadaran itulah, seseorang yang memilih bergabung bersama gereja dianggap seseorang yang memiliki pengetahuan, kesadaran penuh bahwa ada sebuah konsekuensi sebagai saudara gereja, yaitu mengasihi sehingga bertindak merangkul dan memulihkan.

Kisah selanjutnya adalah tentang Yesus yang berada di dalam rumah ibadah di Kapernaum. Kita lihat, Yesus memasuki rumah ibadat dan mengajar, lalu……? Ia menyembuhkan orang yang berteriak (ay. 23) karena kerasukan Roh. Apakah Yesus sesungguhnya wajib menyembuhkan orang itu? Sebagai seorang pengajar, Yesus tidak perlu melakukannya. Lazimnya pengajar ya hanya mengajarkan tentang apa yang diketahuinya, seperti para ahli taurat (22). Oleh karena itu Roh Jahat dari dalam diri orang itu kemudian berkata, “Apa urusan-Mu dengan kami?” Orang it uterus meracau, “Apakah Engkau hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau, yang kudus dari Allah.” Tanpa berbasa-basi Yesus menghardiknya, “Diam, keluarlah daripadanya!” Peristiwa ini peristiwa ajaib. Semua orang takjub. Belum pernah ada yang seperti ini. Mereka dalam ayat ke 27 bicara, ini ajaran baru. Ini berarti Yesus melakukan sesuatu yang belum pernah ada. Ia bukan hanya mengajar, bicara, namun juga pelaku.

Mari kita teliti bersama kalimat “Apa urusanmu dengan kami?” Jika boleh saya tafsirkan, Roh Jahat itu sangat merugikan, ia membuat hidup seseorang menderita. Lalu ia menantang Yesus, “Apa urusanmu dengan kami?” Bukankah ini juga dapat menjadi tantangan bagi kita seolah ada sebuah penderitaan yang menantang kita, “Apa urusan kita dengan penderitaan orang lain?” Kita harus membuat penderitaan itu segera keluar dari hidup saudara kita! Ini ajaran baru, ajaran Kristen. Jika ajaran di tempat lain ini disamakan dengan perbuatan baik untuk mengumpulkan pahala, maka di dalam Kekristenan sangat lain. Ini tentang mengikut Kristus, mengikuti ajaran baru, menjadi saudara yang merangkul dan memulihkan.

Saya bangga menjadi orang Kristen. Hanya di dalam kekristenanlah, Tuhan mengambil konsep keluarga. Oleh karena itu, tahun lalu, Natal kita memiliki tema tentang keluarga, “Berjumpa Allah dengan keluarga.” Jika ditanya, apa kelebihan Tuhannya orang Kristen? Saya berani menjawab, salah satunya adalah karena ia mengambil konsep kemanusiaan, termasuk dalam keluarga. Ia hadir ke dunia sebagai seorang anak, hadir dalam keluarga biasa, lalu mengangkat umat manusia bukan sebagai hamba, melainkan sahabat, bahkan saudara. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi Aku menyebut kamu sahabat (Yohanes 15:15)

Cobalah bapak, ibu, saudara/i mencari, agama mana yang menawarkan hal tersebut? Dengan kebahagiaan itulah kita menjadi tahu bahwa kita memiliki pengetahuan akan kasih persaudaraan. Sekarang kita tahu ada hal yang tidak netral di dunia ini. Kita memang bebas. Dalam kekristenan kita dibebaskan untuk berbuata apa saja. Namun, sekarang kita tahu ada yang tidak bebas menjadi orang Kristen, yaitu dia terikat dengan saudara-saudarinya di gereja. Jadi pilih mana, bebas atau terikat? Dalam kebebasan ini, saya memilih untuk tidak bebas, itulah artinya menjadi Kristen. Bebas memilih, menjadi Kristen atau tidak. Begitu menjadi Kristen, ia tidak bebas lagi. Jika ada yang makan begitu banyak, keenakan dan melihat saudaranya kelaparan, namun tetap membiarkannya, maka ia sulit disebut Kristen.

Sebagai gereja, kita ini tidak kurang-kurang berkutat dengan kasih, sampai kita bisa mendefinisikan kasih atau cinta dalam beberapa istilah, filia (cinta tanpa syarat), agape (cinta persaudaraan), eros (cinta yang membara melampaui maut, kegairahannya gigih seperti dunia orang mati: Kid), dan storge (kasih yang mirip ada pada seorang ibu: penuh kebaikan dan perlindungan). Seharusnya kita punya pengetahuan ini, bahwa kita seharusnya menjadi ahli kasih.

Saya ingin memperlihatkan kekuatan kasih yang khas juga pada ajaran Kristen (Yes. 53:4-5 dan I Petrus 2:24). Kita tahu ada dukun yang menyemprotkan ludahnya ya? Ada juga yang mengoles-oleskan rambutnya, memijatnya untuk menyembuhkan orang. Namun pernahkan ada orang yang mengoleskan darahnya, lukanya untuk menyembuhkan orang lain? Saya belum pernah. Dalam ayat yang sudah kita baca tadi juga, sesungguhnya kisah dalam Yesaya yang kemudian dikutip dalam I Petrus juga bukan bicara orang yang mengisahkan orang yang sedang membagi lukanya untuk menyembuhkan orang lain. Inilah kisahnya. Ada seseorang yang tidak rupawan, ia berada di gerbang kota. Banyak yang terluka karena peristiwa waktu itu (tidak dijelaskan). Lalu muncullah seseorang yang dengan susah payah, bukan orang yang kuat, ia juga terluka, ia membalut orang lain, luka orang lain, dan menyembuhkan orang lain. Itulah kemudian yang menginspirasi Nouwen seorang penulis Amerika untuk menuliskan buku berjudul the wounded healer, seorang penyembuh yang terluka. Kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang terluka yang menyembuhkan. Mana ada kasih seperti itu dalam agama lain? Itulah kebanggaan kita bapak ibu. Semoga kitah ini menyadarkan kita bahwa kita adalah orang-orang istimewa yang memilih untuk terikat dalam persaudaraan, saling merangkul dan memulihkan.

Kisah di atas saya teruskan, kisah tentang keluarga teman saya itu. Saat ini bapak ibu, keluarga itu masih dengan hidup yang sama. Anak-anaknya menikah seperti keluarga-keluarga lain. Ada yang sudah dapat membeli motor. Tentu semua itu dengan keringat bercucuran. Mereka mengandalkan kekuatan fisik dalam bekerja. Saya benar-benar salut akan perjuangan yang tanpa lelah itu. Sementara saya dari luar, merupakan saksi, masuk ke dalam sebagai anggota keluarga. Ibu teman saya sudah seperti ibu saya sendiri. Saya merasa dekat dengan mereka. Mereka merasa pas dan puas menjadi Kristus karena kepedulian saudara-saudari yang baru, keluarga gereja yang tidak memandang kemampuan financial, ganteng atau tidak, rumahnya bagus atau tidak, namun yang benar-benar memperlakukan semuanya seperti saudara! Itulah kuncinya.

Sebagai penutup, saya mengajak kita semua untuk melakukan kasih, tidak hanya 1 jam seperti Esia, bukan pula seperti baygon yang hanya 8 jam, pepsoden yang hanya 12 jam, molto yang 24 jam, namun seperti rexona yang setia setiap saat. Hanya seorang sahabat dan saudaralah yang melakukan hal itu. Mari menjadi sahabat dan saudara bagi siapa saja. Jika ada yang bertanya, apa urusanmu denganku? Maka kita menjawab, urusanku adalah merangkulmu dan memulihkanmu, karena aku saudaramu. Amin

Monarki VS Demokrasi

Jika sudah teratur, mengapa perlu diatur?
Mana yang lebih efektif? Hukum, norma, agama, atau moral? Hukum efektif, namun tidak merubah seseorang, tidak menjamin tidak terulangnya pelanggaran. lihat saja iklan Sampoerna beberapa tahun lalu, “kan ga ada yang lihat?!”. Norma, batasannya sulit, sehingga lain tempat lain batasan. Kita masih bertindak dengan motovasi dari luar. Agama? Banyak orang beragama hanya karena ingin masuk sorga, memang tidak salah, namun terkadang kita melupakan substansi dari ajarannya, walau banyak tokoh moral adalah tokoh religius, namun yang berperan bukanlah agamanya, lebih pada moral yang dimilikinya [Teresa, Gandi, Al Ghazali]. Bagi saya, tindakan lebih efektif bila didasari moral yang baik, sebab kita bisa mengawasi diri kita sendiri. Yang penting bukan apa perbuatannya, namun apa yang melatarbelakanginya. Tokoh moralitas Koehlberg menekankan bahwa yang penting “mengapa dia bertindak”. Seseorang tidak seharusnya dihukum [berat] jika mencuri dalam keterpaksaan. Dalam kisah terkenal yang diangkat Koehlberg [Kisah Heiz], diceritakan Heinz yang mencuri obat yang tak mampu dia beli demi keselamatan isterinya. Walau semua usaha sudah dikerahkan, usaha itu gagal, setelah dia mencurinya, dia diajukan ke pengadilan. Pada peristiwa ini, Koehlberg berkomentar, Heinz secara moral masih dapat dibenarkan. Imanuel Kant, seorang filsuf pada abad 18 bahkan melarang orang untuk tidak membunuh. Seseorang harusnya melawan, yaitu ketika melihat penjahat yang ingin membunuh seluruh keluarganya. Jadi harus dilihat mengapa dia membunuh. Singkatnya, pertimbangan moral sangat diperlukan dalam perilaku.

Rakyat Yogya sudah memiliki moral yang hampir tidak bisa disanksikan lagi. Mereka sudah bertindak berdasarkan hati nurani mereka. Mereka bukan hanya taat pada peraturan, melainkan berperilaku “dari dalam” yakni mempertimbangkan baik dan buruk akibat dari perbuatannya. Yogyakarta lebih melihat kearifan lokal, yakni hidup sebagai kawula [hamba] agar tatanan mereka teratur. Continue reading Monarki VS Demokrasi

memulai sejarah baru

Banyak hal telah berlalu, mbah surip (Urip Ariyanto) dengan kerelaannya dalam “tak gendong” telah meninggalkan sejarah, disusul orang yang menyarankan pemakaman mbah surip di percepat … “Si Burung Merak Terbang Selamanya” WS. Rendra…, hari ini jalan jalan menjadi saksi hilangnya budayawan bangsa ini. sedang aku ingin menulis :

Pertama kali dan bukan terakhir kali
ratap negeri selalu dan tak pernah berakhir
menjadi semakin atau kian terpuruk
negeri yang selalu butuh orang orang “saya tidak butuh populer
Continue reading memulai sejarah baru

Facebook

Buku Wajah? itulah kalau kita mengartikan secara awam tentang Facebook, mungkin cukup mewakili, Situs pertemanan yang saat ini booming, mempunyai kemampuan beberapa hal, selain bisa mencari temen2 lama, penggunaan sangat mudah, sederhana, tapi klo secara prbadi sebenarnya fiturnya tidak selengkap situs pertemanan yang menguasai dunia maya sebelumnya yaitu Frienster, tapi kecepatan memang lebih baik dibanding Friendster…
Jika diamati lebih jauh, saya rasa facebook hanya menang bahwa dia lebih baru… lebih populer karena isu Barack Obama di dalamnya…
Kesimpulannya.. memang ada hal hal yang lebih dan kurang baik dari Facebook maupun Friendster.. terserah mau pake yang mana, karena biasanya yang pake Facebook biasanya juga punya Fiendster.. seperti saya misalnya hahaha

Perayaan dengan uang banyak, perlukah?

Melihat keterpurukan negeri ini, aku ingin menangis, melihat uang yang dipakai untuk berbagai perayaan, sedangkan banyak orang yang masih belum makan disaat yang sama.
aku juga bingung melihat pemimpin pemimpin bangsa ini yang tampak terlihat seperti manager manager yang “kalau tidak menguntungkan ga usah dikerjakan” padahal mereka adalh pemimpin bukan manager.

menjumput rasa, meraih asa

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.